Mencoba untuk Melakukannya Kembali

By : Muhammad Choirul Rosiqin, International Relations Student @University of Muhammadiyah Malang

joggingAlarm hp berdering keras didekatku, seakan memaksaku membuka mata dan beranjak pergi dari tempat tidur yang empuk itu. Bunyi alarm yang tidak enak didengar itu terus berbunyi seakan ia tahu bahwa aku tak mau beranjak pergi ke kamar mandi, alasannya sederhana dingin. Hembusan anginpun menyapa dikala hendak membuka jendela kamar kos yang aku tempati. Tiupan angin yang dingin membuat mata terbuka dan terpaksa kututup jendela rapat-rapat.

Namun, ketika mengingat perintah Tuhan agar menunaikan sholat, maka kubergegas ke kamar mandi dan berwudhu’ sebagai syarat sahnya sholat. Setelah itu menyempatkan berdo’a agar orang tua dirumah diberikan kesehatan dan dilancarkan rezekinya dan tidak terlambat mengirimkan uang saku tentunya hehe.

Waktu sudah menunjukkan pukul 05.15, ketika itu masih ada tayangan menarik di televisi yang menyiarkan hasil pertandingan Atletico Madrid vs Barcelona (1-1) bagi pecinta sepak bola. Seakan tak ingin ketinggalan berita mengenai sepak bola, channel itu tak kuganti sampai tayangan berakhir. Tentu saja karena tayangan pertandingan AM vs B.Fc itu menutup perjumpaannya, maksudnya menonton di penghujung acara televisi yang berinisial T7 itu.

Kaki-pun mulai gelisah ketika jam di hp menunjukkan pukul 05.30 waktu Indonesia bagian barat, mungkin ingin di ajak jalan-jalan di pagi hari dan kebetulan hari minggu. Biasanya pada jam 05.30 aku menyempatkan diri untuk lari pagi setiap minggunya, walaupun tidak rutin kulakukan setiap minggunya karena alasan tertentu. Misal saja, karena bangun kesiangan atau ada kuliah ahad pagi jam 07.00 pagi.

Sudah lama tak menyempatkan diri untuk lari di waktu pagi, kira-kira sudah satu bulan. Ya, karena banyak alasan mengapa aku tidak bisa melakukannya. Pada tanggal 12 Januari 2014 ini aku mencoba untuk melakukannya kembali. Sebelum lari pagi, tak lupa kulakukan pemanasan terlebih dahulu. Sesudah melakukan pemanasan, langsung saja kaki ini mulai berlari. Belum sampai ke titik henti, aku tak kuasa menahan lelah, terpaksa berhenti berlari setengah dari target  yang pernah kuraih sebelumnya. Setelah itu kuteruskan perjalanan dengan jalan biasa alias tidak berlari.

 Oh iya, masih diperjalan menuju rumah kos. Terlihat sekumpulan pedagang kaki lima atau sejenisnya membuka lapak di samping depan gerbang komplek perumahan. Disana terlihat transaksi jual-beli antara pedagang dan pembeli yang kebetulan lewat disana atau sengaja kesana. Mata melirik atau katakanlah melihat ke kanan-kiri jalan, terlihat banyak jenis barang yang diperjual belikan. Mulai dari makanan-minuman sampai pakaian dan aksesoris, sepertinya lengkap dah.

Hope_is_a_waking_dream-AristotleTak jauh dari tempat tadi, terlihatlah sawah yang terbentang diantara rumah-rumah disekelilingnya. Munurutku tak lama lagi sawah yang kulihat itu berganti nama menjadi perumahan, karena pertumbuhan penduduk meningkat setiap tahunnya dan memungkinkan hal itu terjadi. Mata ini seakan tak ingin melepas penglihatannya terhadap sawah itu, hijau nan elok dimata. Jika aku mampu untuk membeli semua lahan persawahan itu, maka tidak akan kualihkan kegunaanya menjadi perumahan (dalam benakku).

Perut terdengar berteriak keras ketika melihat pedagang kecil menjual makanan khas di pinggir jalan dan memaksaku berjalan mendekati pedagang itu. Ketika itu, banyak yang ingin membeli makanan yang dijual oleh pedagang itu, terpaksa mengantri. Melihat jenis makanan yang dijual, tak disengaja melihat makanan yang warnanya begitu pekat. Setelah berangan-angan yang tidak-tidak, aku-pun merasa mual seakan ingin memuntahkan isi perut. Namun, kutahan sebentar dan mual itu semakin menjadi ketika antrian tinggal satu orang saja. Terpaksa, aku beranjak dari sana agar tidak mengganggu orang lain dengan memuntahkan isi perut di sekitar lapak itu.

Tak lama kemudian, aku merasa akan pingsan di pinggir jalan karena pusing dikepala dan mual diperut. Melihat jalanan seakan bergoyang dan memaksaku berhenti sejenak. Perut terasa ingin mengeluarkan seluruh isinya, untungnya didekat jalan ada sungai kecil. Aku-pun bergegas mendekatinya, tentunya dengan maksud agar tidak terlihat (isi) oleh orang-orang.

Setelah mengeluarkan sedikit, pusing dikepala terasa lebih ringan dibanding sebelumnya. Sehingga perjalanan menuju rumah kos bisa dilanjutkan, tak jauh dari sungai ada seorang gadis sedang membeli bubur ayam di pinggir jalan. Tentunya mata tak ingin luput melihat kecantingannya. Apa boleh buat, aku biarkan saja mata ini memandangnya lebih lama 😀 hehe. Dari sini, jarak menuju rumah kos tidak terlalu jauh. Sembari do’a kupanjatkan kepada tuhan yang maha Esa agar tidak pingsan di jalan. Sesampai di rumah kos, langsung kutulis kejadian ini sambil lalu mengobati rasa mual dengan minum air putih dan mengistirahatkan badan yang letih ini.

Advertisements

About Muhammad Choirul Rosiqin

I was born in Eastern Probolinggo, East Java, in 1994. I'm student of International Relations @University of Muhammadiyah Malang
This entry was posted in Short Story. Bookmark the permalink.

Hey hey! What have you got to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s