SKI sebagai Alat Analisa dalam HI (Konstruktivisme)

By : Muhammad Choirul RosiqinInternational Relations Student @University of Muhammadiyah Malang

Constructivist theory rejects the basic assumption of neo-realist theory that the state of anarchy (lack of a higher authority or government) is a structural condition inherent in the system of states. Rather, it argues, in Alexander Wendt’s words, that ‘Anarchy is what states make of it’. That is, anarchy is a condition of the system of states because states in some sense ‘choose’ to make it so. Anarchy is the result of a process that constructs the rules or norms that govern the interaction of states. The condition of the system of states today as self-helpers in the midst of anarchy is a result of the process by which states and the system of states was constructed. It is not an inherent fact of state-to-state relations. Thus, constructivist theory holds that it is possible to change the anarchic nature of the system of states. (See Alexander Wendt, ‘Anarchy is What States Make of It’, International Organization, 46, 2, Spring 1992.)[1]Kontruktivisme

  • Asumsi Dasar

Manusia senantiasa mengkonstruk atau membentuk, realitas sosial. Unsur terpenting dari gagasan adalah inter-subjektivitas semata. Persepsi aktor internasional sangat menentukan pola interaksi yang terjadi. Agen dan struktur terlibat dalam hubungan yang saling membentuk. Implikasinya, hubungan internasional adalah tentang politik pemaknaan.

– Ex: Konsep Anarki

Anarki bagi kontruktivisme, tergantung pada bagaimana aktor-aktor internasional memaknai interaksi diantara mereka. Anarki adalah konstruksi dari aktor yang bersangkutan. Pola hubungan apakah konfliktual atau kerjasama bukan konsekuensi logis dari anarki, melainkan ditentukan oleh inter-subjektivitas aktor.

  • Tiga Macam Anarki Internasional
  1. Hobbesian: Identitas; musuh. Karakteristik; Ofensif/revisionis, Mempertimbangkan skenario terburuk, Supremasi militer, Menyerang lebih dulu. ex: Korut vs Korsel
  2. Lockean: Identitas; rival. Karakteristik; Defensif/status quo, Kekhawatiran berkurang, Militer tetap penting namun bukan satu-satunya, Perang terbatas. ex: China vs Jepang
  3. Kantian: Identitas; teman. Karakteristik; Non-kekerasan, Kerjasama tapi untuk meraih kepentingan sendiri, Kerjasama untuk meraih kepentingan bersama (identitas kolektif). ex: Uni Eropa, ASEAN
  • Kontruktivisme dan Keamanan Internasional

Identitas sebagai kategori “sosial” yaitu atribut atau karakteristik yang membedakannya dengan yang lain. Identitas sebagai kategori “personal” yaitu atribut atau karakteristik yang melekat dalam diri aktor yang keberadaannya muncul tanpa perlu proses pembedaan dengan yang lain. Identitas dalam “konstuktivis” adalah atibut yang melekat pada diri aktor yang mendorong tindakan. Identitas menjadi dasar pemaknaan aktor terhadap lingkungan sekitarnya. Pemahaman diri aktor berimplikasi pada bagaimana ia bertindak. Jadi identitas membentuk kepentingan, sedangkan kepentingan membentuk tindakan.

  • Tipologi IdentitasTipologi Identitas
  1. Corporate/personal (subyektif), ex: Letak Geografis
  2. Type identity (subyektif), ex: Negara Sosialis
  3. Role Identity (sosial), ex: Hegemon
  4. Collective identity (sosial), ex: ASEAN
  • Norma Internasional

Definisi norma menurut kontruktivis ialah harapan-harapan yang dianut oleh negara. Aktor-aktor hubungan internasional terutama negara melakukan tindakan karena dituntun oleh aturan-aturan, prinsip-prinsip, norma yang disepakati bersama. Segala sesuatu yang dianggap pantas oleh komunitas internasional pasti membuat negara-negara terdorong untuk melaksanakannya.Norma memiliki kekuatan untuk menentukan tindakan negara ketika termanifestasi dalam lembaga.Norma membentuk kepentingan negara, kepentingan mendasari tindakan suatu negara, dan tindakan negara akan berimplikasi pada norma yaitu apakah norma itu akan dipertahankan, dimodifikasi, atau bahkan diubah.

Norma: muncul (ide/gagasan) > menyebarluaskan (ide/gagasan) > internalisasi (menerima ide/gagasan) atau sepakat.

“Tidak ada kawan sejati tanpa musuh sejati. Jika kita tidak mampu membenci apa yang kita benci, kita tidak akan mampu mencintai apa yang kita cintai.” –Michael Dibbin

Tulisan ini adalah sebuah review dari materi yang pernah disampaikan dalam kelas oleh dosen pengampu mata kuliah Studi Keamanan Internasional, Hafid Adim Pradana.

Reference:

[1] http://www.irtheory.com/know.htm

[2] https://www.mtholyoke.edu/acad/intrel/pol116/wendt.htm

Advertisements

About Muhammad Choirul Rosiqin

I was born in Eastern Probolinggo, East Java, in 1994. I'm student of International Relations @University of Muhammadiyah Malang
This entry was posted in Studi Keamanan Internasional and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to SKI sebagai Alat Analisa dalam HI (Konstruktivisme)

  1. Pingback: LIGAPOKER – Agen Poker Online Terpercaya | Bisnis Online Terbaru

  2. What’s up, constantly i used to check blog posts here in the early hours in the morning,
    for the reason that i love to learn more and more.

    Like

  3. Yesterday, while I was at work, my cousin stole my apple ipad and
    tested to see if it can survive a thirty foot drop, just so she can be a
    youtube sensation. My apple ipad is now destroyed and
    she has 83 views. I know this is totally off topic but I had to share it with someone!

    Like

  4. In fact no matter if someone doesn’t understand afterward
    its up to other viewers that they will help, so here it happens.

    Like

Hey hey! What have you got to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s