Review: Globalisasi dan Nasionalisme dalam Bidang Ekonomi

By : Muhammad Choirul RosiqinInternational Relations Student @University of Muhammadiyah Malang

Latar Belakang

Dalam beberapa dekade terakhir kita memang sering sekali mendengar kata ‘globalisasi’. Globalisasi memang tidak dipungkiri bahwa kemunculannya tidak dapat kita hindari. Globalisasi dapat diartikan sebagai “the extension of social over the globe”.[1] Sementara itu, Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (“nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.[2] Seperti yang dijelaskan dalam buku Pengantar Ilmu Hubungan Internasional:globalization ‘’…secara social, ekonomi maupun politik, globalisasi memungkinkan terjadinya pergeseran citizenship dan ketidaksetiaan dari keterikatan nasional kedalam keterikatan global.’’[3]

Globalisasi yang paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir ini adalah mengenai globalisasi ekonomi. Globaisasi ekonomi masih menjadi isu yang sangat menarik untuk dibahas di kalangan para akademisi social maupun ekonomi. Ketika kita berbicara mengenai globalisasi ekonomi, nantinya aka nada kaitannya dengan neoliberalisme dan juga kapitalisme.

 

Pembahasan

Neorealism Dan Capitalism Dalam Globalisasi Ekonomi

Dalam membicarakan mengenai globalisasi ekonomi adanya peran neoliberalisme tentunya tidak dapat dipisahkan. Seperti dalam artikel karya Chamsy el-Ojeili dan Patrick Hayden yang berjudu Critical Theories of Globalization, dikatakan “…one vital ingredient in the emergence of the new global economy has been a set of deregulating policies pushed by neoliberals, which have come to replace the previous social democratic consensus in Western nations (Castells, 1996).”[4]

Sementara itu kapitalisme adalah suatu system ekonomi dinama modalnya berasal dari dana pribadi dan atau perusahaan swata yang menekankan pada nilai persaingan dan pasar bebas. Capitalism is an economic system based on the generalized production and circulation of commodities – goods and services on sale on a market – and the production and circulation of these commodities is centred around the drive for profit (Buick and Crump, 1986).”[5]

Neo-liberalisme adalah seperangkat kebijakan ekonomi yang meluas sejak sekitar 25 tahun terakhir ini. Neo-realisme merupakan sebuah koreksi dari teori realisme. Neorealisme muncul sebagai respon atas tantangan yang dikemukakan oleh teori independensi dan sebagai koreksi terhadap realis yang cenderung fokus pada kekuatan milter, mengabaikan kekuatan ekonomi. Pelopor dari pemikir ini adalah Kenneth Waltz.

Neo-realis lebih menekankan pada kerjasama dan peranan institusi-institusi baik pemerintah maupun non-pemerintah dalam hubungan internasional. Terutama tentang interdependensi ekonomi antar negara. Kaum neorealis percaya bahwa negara-negara bertujuan untuk memaksimalkan kekayaan mereka, dan cara terbaik untuk mencapainya adalah dengan bekerjasama dalam mewujudkan liberalisasi ekonomi[6].

Dalam tulisan ini, pemakalah membahas mengenai Globalisasi dalam bidang ekonomi, menggunakan teori neorealisme dalam menjelaskan fenomena globalisasi dalam bidang ekonomi ini. Seperti yang bisa dilihat saat ini, negara-negara di dunia saling mengadakan kerjasama di bidang ekonomi (free trade), contohnya ACFTA, Uni Eropa dll. Dalam konteks ini, negara-negara melakukan sebuah usaha untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran negaranya melalui kerjasama di bidang ekonomi.[7] Kesepakatan pembentukan perdagangan bebas ACFTA diawali oleh kesepakatan para peserta ASEAN-China Summit di Brunei Darussalam pada November 2001. Hal tersebut diikuti dengan penandatanganan Naskah Kerangka Kerjasama Ekonomi (The Framework Agreement on A Comprehensive Economic Cooperation) oleh para peserta ASEAN-China Summit di Pnom Penh pada November 2002, dimana naskah ini menjadi landasan bagi pembentukan ACFTA dalam 10 tahun dengan suatu fleksibilitas diberikan kepada negara tertentu seperi Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam. Ada 16 pasal dalam Asean-China Free Tade Agreement. Lihat buku Critical Theories of Globalization (2006)halaman 26.

Kaitan WTO, IMF, Bank Dunia dalam Globalisasi Ekonomi

Secara sangat sederhana bisa dikatakan bahwa globalisasi terlihat ketika semua orang di dunia sudah memakai celana Levis dan sepatu Reebok, makan McDonald, minum Coca-Cola. Secara lebih esensial, globalisasi nampak dalam bentuk Kapitalisme Global berimplementasi melalui program IMF, Bank Dunia, dan WTO. Tatanan produksi global didukung oleh keberadaan lembaga internasional seperti WTO, Bank Dunia dan IMF yang menyebabkan manusia tidak bisa terlepas dari jerat kapitalisme.

Protes mengenai globalisasi beserta lembaga-lembaga seperti IMF, World Bank, dan WTO menuai banyak protes karna dianggap sebagai bentuk kapitalisme barat juga hegemoni barat terhadap negara dunia ketiga, dalam peran IMF sendiri misalnya meskipun indonesia mendapatkan pnjaman uang yang dikatakan untuk memperbaiki ekonomi negara namun justru perekonomian indonesia dikontrol oleh barat.

Multi National Cooperation (MNC) dan Globalisasi Ekonomi

MNC and Globalitation

Istilah multinasional diperkenalkan pertama kali oleh David E. Lilienthal pada April1960 dalam makalahnya tentang manajemen dan perusahaan untuk acara temuan ilmiah yang diselenggarakan oleh Carnregie Institute of Technology on management dan Corporations. Dalam makalahnya, Lilienthal memberi pengertian Perusahaan Multinasional (MNCs) sebagai perusahaan yang mempunyai kedudukan di suatu Negara tetapi beroperasi dan menjalankan perusahaannya berdasarkan hukum-hukum dan kebiasaan-kebiasaan negara lain.

MNC dapat diartikan sebagai bentuk bisnis internasional yang dilakukan oleh perusahaan dengan menyebarkan cabang perusahaan di luar negara. MNC muncul dari berbagai negara yang cenderung memilki latar belakang negara maju dan banyak menyebar di berbagai negara. Perusahaan-perusahaan MNC dapat bertindak sebagai aktor kunci dalam ekonomi global karena mampu melakukan integrasi secara vertikal, konsentrasi modal, organisasi pasar, dan manajemen dalam suatu skala yang tepat membuatnya menginternasional, ke arah ekonomi global dan kemudian memenuhi permintaan-permintaan akan pasar global.[8]

Keberedaaan aktor non-negara atau biasa disebut MNC di sebuah negara dapat dengan leluasa masuk melewati batas kedaulatan negara dan melakukan penanaman modal atau investasi langsung disuatu wilayah. Investasi asing  langsung atau bisa juga disebut (foreign direct investment, FDI) adalah investasi riil dalam bentuk pendirian cabang perusahaan seperti perluasan atau pembelian sebuah perusahaan oleh perusahaan asing atau penduduk asing yang berlokasi di negara lain.[9]FDI (Foreign Direct Investment) atau investasi langsung luar negeri adalah salah satu ciri penting dari sistem ekonomi yang kian mengglobal.[10]

Tujuan Multinational Corporation adalah memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Tujuan perlu dibuat karena semua keputusan akan diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.[11] Namun dalam pencapaian tujuan MNC terdapat hambatan berupa hambatan peraturan, hambatan lingkungan dan hambatan etika. Perusahaan seperti Multinational Corporation (MNC) bergerak diberbagai bidang yang berbeda-beda, diantaranya yaitu bergerak di bidang franchise,ritel,perbankan,restoran,hiburan, otomotif, teknologi informasi, perminyakan danpertambangan, direct selling, dan sebagainya.[12]

Daftar 20 MNC terbesar Dunia Berdasarkan aset Tahun 2003

unctadBerdasarkan data Tabel diatas dapat diketahui peringkat negara  berdasarkan kekayaan perusahaan multinasional dari negara tersebut yang menguasai bisnis internasional yaitu:[13]

tab 41

Perkembangan MNC dewasa ini tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan globalisasi. Globalisasi finansial dan kapitalisme telah membuat MNC tumbuh menjamur di hampir seluruh negara dunia. Namun beberapa ilmuwan justru menyebut bahwa tumbuhnya MNC adalah sebagai kesalahan dari globalisasi. Penyebabnya adalah[14] asumsi bahwa kekayaan asset dari MNC tersebut justru mampu melebihi GDP sebuah negara. Sebagai contoh adalah pendapatan GM (General Motor) mencapai 191,4 miliar dollar pada tahun 2004. Faktanya angka tersebut mampu untuk melunasi utang luar negeri Indonesia. Selain dalam hal ekonomi, kekuatan politik MNC juga tidak bisa dianggap remeh. Berangkat dari kepentingannya, MNC secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi suatu kebijakan sebuah negara. Contohnya dalam hal regulasi investasi asing dan pajak perusahaan. Bagaikan dua sisi mata uang, MNC mempunyai sisi positif dan negatif. Kedua sisi ini tentunya harus dapat disikapi secara positif oleh negara-negara host. Sisi positifnya adalah, bahwa MNC dapat dikatakan sebagai agen transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang. Yang dengan demikian akan juga meningkatkan persebaran ilmu pengetahuan dan teknologi ke seluruh penjuru dunia. Juga dapat menjadi solusi pemberi kebutuhan bagi konsumen dunia akan suatu barang produksi yang tidak atau belum mampu diproduksi secara komersil oleh negaranya. Namun sisi buruknya adalah, bagaimanapun juga harus dipahami bahwa MNC adalah korporasi bisnis yang selalu berorientasi kepada keuntungan. Dalam mencari keuntungannya tersebut, MNC tidak segan-segan untuk menempatkan para pelobinya di pemerintahan maupun legislative untuk melindungi kepentingan MNC tersebut. Setidaknya ada lima hal penting yang harus dilakukan MNC agar dapat menjadi agen globalisasi yang baik. Pertama adalah, setiap korporasi diwajibkan untuk memiliki program corporate social responsibility (CSR). Hal itu bertujuan untuk mendekatkan perusahaan dengan masyarakat di lingkungannya dan diharapkan akan dapat meningkatkan tujuan bersama. Contoh nyatanya adalah bagaimana perusahaan dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya. Yang kedua adalah, pembatasan “power” dari sebuah korporasi. Pembatasan diperlukan agar tidak muncul monopoli pasar. Hal ini mengingat bahwa semakin besar kekuatan ekonomi sebuah korporasi akan semakin besar “power”nya. Ketiga adalah meningkatkan governance perusahaan. Dan bagaimana perusahaan tidak hanya menjadi shareholders namun juga menjadi stakeholders bagi masyarakat dan karyawan perusahaan. Keempat adalah, pembentukan peraturan global untuk global ekonomi. Peraturan yang sudah dibentuk ini harusnya juga dilengkapi dengan kerangka kerja legal secara internasional. Peraturan dan kerangka kerja adalah usaha preventif untuk menghindari penyelewengan perusahaan. Yang terakhir adalah pemberantasan korupsi. Suatu MNC dapat rusak melalui praktek-praktek korupsi di dalam perusahaan. menyatakan korupsi terjadi di negara yang demokrasi lemah, hal ini terlihat dari tidak adanya transparansi dalam pengelolaan anggaran.[15] lima cara agar MNC dapat menjadi agen globalisasi yang baik. MNC tidak bisa melanggar kodratnya yang money oriented namun dalam prakteknya kebijakan perusahaan yang tidak eksploitatif akan meningkatkan citra perusahaan tersebut, salah satunya dengan program CSR tersebut. Hal ini akan memunculkan kesadaran masyarakat sekitar sebagai stakeholder perusahaan tersebut. Pembatasan ‘power’ diperlukan untuk dapat menjaga perusahaan dalam jalur yang tepat. Sementara korupsi yang menjadi penyakit bagi perusahaan sebisa mungkin harus di berantas, dengan beberapa kebijakan perusahaan seperti transparansi anggaran. Menjamurnya MNC dewasa ini tentu saja tidak dapat terhindarkan. Seiring dengan globalisasi dan globalisasi kapital yang kian meluas. Diharapkan dengan saran-saran yang diajukan Joseph Stiglitz akan dapat membuat MNC menjadi agen transfer kesejahteraan, bukan menjadi ‘benalu’ yang dengan rakus memakan saripati inangnya.

 

Global Finance

Krisis ekonomi Global merupakan peristiwa di mana seluruh sektor ekonomi pasar dunia mengalami keruntuhan dan mempengaruhi sektor lainnya di seluruh dunia. Ini dapat kita lihat bahwa negara adidaya yang memegang kendali ekonomi pasar dunia yang mengalami keruntuhan besar dari sektor ekonominya.

Dengan begitu tercetuskan sebuah keputusan negara yang beroperasi dalam ekonomi terbuka dan globalisasi modal keuangan. Banyak kelompok dan individu berpartisipasi dalam sistem keuangan global.

Contoh dari jasa global finance sepertiGlobal Finance Group yang merupakan perusahaan investasi independen. Didirikan pada tahun 1991[16], dia merintis ekuitas swasta di Selatan-Timur Eropa dan telah membentuk track record yang luar biasa untuk investasi. Global Finance memiliki tim investasi ekuitas swasta yang profesional untuk menjalankan bisnis, termasuk keuangan, operasi, konsultasi dan teknologi informasi, yang bertanggung jawab untuk sumber dan penawaran struktur, memantau perusahaan dan untuk bekerjasama manajemen mereka bertujuan memaksimalkan nilai dari setiap bisnis.

Teknologi dan Globalisasi

Di era globalisasi, teknologi informasi berperan sangat penting. Dengan menguasai teknologi dan informasi, kita memiliki modal yang cukup untuk menjadi pemenang dalam persaingan global.

Perbedaan utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara maju karena didukung oleh sistem informasi yang mapan. Sebaliknya, sistem informasi yang lemah di negara-negara berkembang mengakibatkan keterbelakangan dalam penguasaan.ilmu pengetahuan.dani teknologi.

Kesimpulan

Neoliberalisme memang telah menjadi pintu yang sangat lebar bagi berkembangnya globalisasi ekonomi di hampir seluruh Negara di dunia. Globalisasi ekonomi semakin mencuat bukan saja karena dari beberapa factor diatas. Adanya Multinational Cooperation (MNC) tentu juga sangat berimpilkasi pada praktek globalisasi ekonomi itu sendiri. MNC memang memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi global suatu negara, saat ini hadir melalui banyak aspek kebutuhan dilihat dari segi perusahaan yang ikut andil seperti Samsung, Blackberry, Apple, Toyota, Honda, Adidas, Mc Donald, Coca-cola dan lain-lain. Adanya MNC bagi negara baru berkembang cukup memberikan ruang pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Bagi Indonesia, seharusnya semua bentuk perdagangan bebas yang tercipta dari efek globalisasi ekonomi tersebut bisa membuat ekonomi Indonesia juga meningkat. Perdagangan bebas sendiri sebenarnya bisa menimbulkan rasa nasionalisme mereka, karena dengan demikian mereka memiliki kesempatan yang luas untuk mempromosikan hasil produk negar mereka sendiri ke pada dunia internasional melalui perdangan bebas tersebut. Namun, bagi negara berkembang hal ini masih menjadi sulit untuk dilakukan. Karena yang pertama, mereka masih belum mampu mengolah sumber daya mereka yang melimpah dengan baik, dikarenakan tidak memiliki teknologi yang menunjang. Yang edua, Negara-negara berkembang masih cenderung bergantung terhadap Negara-negara maju. Karena memang negar-negara maju sendiri memang akan terus membuat Negara-negara dunia ketiga menjadi bergantung dengan mereka, sehingga kepentingan dunia pertama dapat dengan mudah didapatkan.

Tulisan ini adalah hasil review materi dari presentasi kelompok dalam memenuhi tugas mata kuliah Globalisasi dan Nasionalisme.

Reference:

[1]DR. Anak Agung Banyu Perwita & DR. Yanyan Mochamad Yani. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bangung:2006. Hal. 136.

[2]Lina Anggraini. Dampak Globalisasi terhadap Nasionalisme. Hal. 4.

[3]Ibid. Hal 136

[4] Chamsy el-Ojeili and Patrick Hayden. Palgrave Macmilan: 2006. Critical Theories of Globalization. Hal. 49.

[5]Ibid. Hal. 50.

[6] Jill F Steans & Lloyd Pettiford, “Hubungan Internasional Perspektif Dan Tema”, 2009, Yogjakarta: Pustaka Pelajar, Hal : 76

[7]M. Syaprin Zahidi. Yogyakarta:2014. Penagruh Kepentingan ASEAN dan China terhadap Bentuk Legal ACFTA (ASEAN CHINA FREE TRADE AGREEMENT). Hal. 6.

[8] Puji Rianto.2004.”Globalisasi, Liberalisasi Ekonomi dan Krisis Demokrasi”

[9] Dilihat ”jenis-jenis arus modal” melalui http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4216/42.htm diakses pada tanggal 24 maret 2014 pukul 10.42

[10]WAHYUDIN   MUZAIRIN,”Ekonomi Internasional” hal L 168

[11] Jeff Madura,2006, Keuangan Perusahaan Internasional,cengage learning,Jakarta, halaman 4

[12] Lili Adi Wibowo.”STRATEGI GORECALIZATION PADA PERUSAHAAN-PERUSAHAAN MULTINASIONAL

(KASUS PADA MCDONALD’S, CITIBANK, NEW CARREFOUR, MTV ASIA, DAN COCA COLA )”.hal:1

[13]http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4216/44.htm diakses pada 24 maret 2014 pukul 11.30

[14] Joseph Stiglitz,2006, “the multinational Corporation dalam making globalization work, London, Penguin Allen Lane, P: 187

[15] ibid

[16] Global Finance Group dalam www.globalfinance.gr diakses pada tanggal 24 Maret 2014, pukul 22:10 WIB

Advertisements

About Muhammad Choirul Rosiqin

I was born in Eastern Probolinggo, East Java, in 1994. I'm student of International Relations @University of Muhammadiyah Malang
This entry was posted in Globalisasi dan Nasionalisme and tagged , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Review: Globalisasi dan Nasionalisme dalam Bidang Ekonomi

  1. Hey there! Do you use Twitter? I’d like to follow you if that would be okay.
    I’m absolutely enjoying your blog and look forward to new updates.

    Like

  2. This site was… how do I say it? Relevant!! Finally I’ve found something which helped me.
    Thanks!

    Like

  3. Superb blog! Do you have any recommendations for aspiring writers?
    I’m hoping to start my own website soon but I’m a little lost on everything.
    Would you propose starting with a free platform like WordPress or go for a paid option? There
    are so many options out there that I’m totally confused ..
    Any ideas? Kudos!

    Like

  4. I was recommended this blog by my cousin. I’m not sure whether this post is
    written by him as no one else know such detailed about my
    trouble. You are amazing! Thanks!

    Like

  5. Very soon this web site will be famous among all blogging and site-building users, due to it’s pleasant content

    Like

  6. Heya i’m for the first time here. I found this board and I to find It really useful & it helped
    me out a lot. I’m hoping to present something back and aid others such as you aided me.

    Like

  7. This is the perfect blog for anybody who hopes
    to understand this topic. You understand a whole lot its almost hard
    to argue with you (not that I personally would want to…HaHa).
    You certainly put a brand new spin on a subject that’s been written about for decades.
    Wonderful stuff, just excellent!

    Like

  8. I always used to study piece of writing in news papers but now as I am a user
    of net so from now I am using net for articles, thanks to web.

    Like

Hey hey! What have you got to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s