Vote, Hadiah Ulang Tahunku

By : Muhammad Choirul RosiqinInternational Relations Student @University of Muhammadiyah Malang

Sinar matahari mulai tampak di langit-langit kamar, ayam mulai berkokok di atas dahan batang pohon sebelah rumah. Udara sejuk kala itu sontak membuat Choirul tak betah lama-lama di atas ranjang. Hari ini adalah hari yang special untuknya. Betapa tidak, esok hari ia akan menginjak umur delapan belas tahun. Matanya terlihat berkaca-kaca ketika melihat kalender di dinding kamarnya menunjukkan hari Sabtu tanggal 26 Februari.

VoteWaktu sudah menunjukkan jam 05.15, baginya manajemen waktu itu penting karena ia harus melakukan banyak hal di pagi hari. Mulai dari membersihkan kamar, menyapu, menyiram tanaman di depan rumah, hingga menyiapkan sarapan pagi untuknya, adik, dan Ayahnya juga.

Ibunya meninggal saat ia berusia lima tahun, tak ada pembantu dalam rumah sehingga urusan rumah dilakoninya. Adiknya masih berusia delapan tahun dan masih berada di bangku sekolah dasar kelas 1. Setiap hari Choirul harus mengantarnya ke sekolah karena ayahnya khawatir ada apa-apa jika adiknya itu tidak diantar. Ayahnya seringkali berangkat pagi dan pulang di malam hari karena pekerjaan kantor yang padat dan biasa mengambil jam lembur.

Ayah Choirul harus berangkat duluan ke kantor, karena ada meeting jam 07.15. Sarapan telah disiapkannya di atas meja, namun karena ayahnya berangkat duluan akhirnya ia segera sarapan dan siap-siap berangkat karena adiknya harus diantar ke sekolah.

Saat di jalan menuju sekolah, adiknya bertanya kepada Choirul, “apa itu?” (sambil tangannya menunjuk kearah sebuah gambar di pinggir jalan). Oh, itu gambarnya caleg DPR dik, jawabnya singkat. Tapi adiknya masih penasaran pada gambar besar itu seraya bertanya, “apa itu caleg?”. Caleg itu singkatan dari Calon Legistaif, jawab Choirul. Lalu adiknya tak menanyakannya lagi saat berada didepan sekolahnya.

Setelah mengantar adiknya kesekolah, Choirul segera berangkat kuliah. Sesampai didepan kelas ternyata dosennya tidak masuk hari ini karena ada kepentingan di luar kota, sehingga memaksanya kembali kerumah. Dan ia-pun pulang.

Sesampai dirumahnya, ia menyalakan televisi yang berada di ruang tamu. Serba-serbi pemilu dari bulan lalu sampai hari ini masih nampak di layar televisi. Dari warna putih, hijau, merah, biru, kuning dan lainnya masih menampakkan diri mereka di media televisi.

Hampir semua channel yang dipilih Choirul kala itu menayangkan tentang pemilu, padahal hari ini sudah saatnya kampanye usai. Seketika itu-pun ia berpikir mengapa tayangan televisi masih menampilkan acara-acara yang berkaitan dengan pemilu, padahal acara kegiatan pemilihan umum akan diselenggarakan esok hari. Akan tetapi, kampanye politik di media televisi masih terlihat dengan jelas dilakukan oleh para caleg yang mempunyai media.

Sudah saatnya dia menjemput adiknya di sekolah karena jam sudah menunjukkan jam 11 siang, ia-pun segera mematikan televisi dan beranjak pergi. Sesampai disekolah Choirul bertemu dengan salah seorang temen sebayanya Galang, saat menunggu adiknya pulang sekolah.

Mereka-pun akhirnya duduk bersama dan membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan tentang pemilu yang akan berlangsung esok hari, sebelumnya mereka tak membicarakan masalah itu melainkan masalah asmara. Entah mengapa saat di pertengahan pembicaraan tiba-tiba berbicara tentang kontestasi politik yang akan berlangsung esok hari. Temannya menanyakan Choirul tentang hal-hal tentang pemilu, terutama siapa bakal calon yang akan ia pilih esok. Namun, Choirul masih ragu untuk menjawab karena ia tak tahu pasti tentang sosok calon yang bakal ia pilih nantinya. Ia-pun bertanya balik kepada temannya. Galang dengan tegas memilih sosok calon dari partai A.

Ketika Choirul menanyakan alasan mengapa si Galang itu memilih sosok calon dari partai itu, Galang dengan percaya diri menjawab, “lah, kamu gimana sih, orang ini sering muncul di televisi lho, katanya dia juga baik dan tidak korupsi.” “Selain itu, apa alasanmu memilihnya.” Tanya Choirul penasaran. “Emmm,,,, apa ya, pokoknya aku pilih yang masuk TV aja.” Sambil tersenyum Galang menjawab.

Choirul-pun menganggukkan kepalanya, seraya berpamitan pulang karena adiknya telah keluar dari sekolah. “Besok kita ngombrol lagi,” tambah Choirul.

Saat di tengah jalan menuju rumahnya, adiknya kembali menunjuk gambar salah satu caleg yang terpampang besar di samping jalan dan bertanya “disamping gambar itu, ada tulisan. itu apa?.” “Owh, itu slogannya. Slogan itu dibuat untuk meyakinkan pemilih agar memilih dia besok.” Jawab Choirul. Kemudian adiknya bertanya lagi, “ngapain fotonya di pampang disini?.” Suatu hari nanti kamu akan mengerti sendiri kenapa fotonya di pampang disini.

Kemudian adiknya tak bertanya lagi masalah gambar besar disamping jalan itu. Sepertiga perjalanan menuju rumah seorang penjual ice cream dengan bunyi-bunyian khasnya …ice cream miami minta ice creamnya dong… adiknya-pun meminta ice cream. Choirulpun menuruti kemauan sang adik karena adiknya jarang meminta dibelikan sesuatu kepadanya. Biasanya adiknya meminta sesuatu selalu kepada ayahnya.

Adiknya Choirul ini kemudian memakan ice cream yang dibelikan oleh kakaknya sambil lalu berjalan menuju rumah. Tak segan adiknya menawarkan kakaknya untuk mencoba rasa ice cream tersebut sambil menyuguhkan kepada sang kakak. Namun, Choirul menyuruh adiknya memakan sendiri ice creamnya lalu mengajaknya cepat-cepat hendak pulang.

Yeae,,kita sampai,teriak sang adik saat sampai depan rumah. Choirulpun melihat sambil tersenyum kepada adiknya. Lalu membuka pintu rumah dan memasukinya dengan riang. Adiknyapun langsung mengambil remot TV yang berada tak jauh dari pintu rumah lalu menyalakannya. Langsung melihat tayangan kartoon, adiknya sangat menyukai film kartoon apalagi kalau hari minggu biasanya dia tak beranjak dari sofa depan televisi dari pagi hingga menjelang tengah hari, karena hari minggu TV nasional menayangkan film-film kartoon dari pagi hingga siang.

Saat Choirul mencoba mendekati dan meminta remot TV, adiknya tak mengubrisnya. Lalu Choirul mencoba membujuknya dengan iming-iming hadiah agar memberikan remot tersebut untuk melihat berita terkini di layar televisi, namun adiknya-pun tak tergoda dengan hal itu.

Tak kehabisan akal adiknya digendong dan dibawa ke kamarnya, yang terjadi malah adiknya menangis dengan kerasnya. Sehingga memaksa Choirul untuk mengembalikan remot dan membiarkannya selesai menonton film kesukaannya.

Tak berselang lama, adiknya memberikan remotnya lalu beranjak pergi ke kamarnya untuk istirahat. HP yang batterainya sedang diisi Choirul terdengar bernyanyi di atas laci. Sontak ia mengambilnya, ternyata Galang mengirimkan sms untuknya. Mengajak pergi nanti malam ke sebuah kedai kopi deket rumahnya. “oke, bro kita ketemu disana jam 19.15 J.” Balasnya.

Satu jam kemudian, adiknya meminta Choirul untuk menemaninya bermain di depan rumah. Di bawah pohon di rindang mereka bermain kelereng yang begitu populer di kalangan masyarakat sana. Adiknya mulai bertanya lagi masalah gambar besar yang ada di pinggir jalan saat hendak pergi dan pulang dari sekolah tadi, “kenapa foto itu ditaruh disana?.” Pertanyaan yang sama ditanyakannya lagi kepada Choirul, mungkin karena sang adik penasaran mengapa tidak diletakkan di tempat lain. “karena di tempat tadi itu banyak orang yang lewat kesana kemari sehingga banyak yang melihat gambar besar itu tadi.” Jawab Choirul sambil mengajak adiknya meneruskan permainan kelereng.

Tak lama kemudian, adiknya masuk dalam rumah dan meninggalkan Choirul begitu saja. Otomatis membuat bingung sang kakak, mengapa adiknya tiba-tiba pergi sementara ia mengajak bermain “mungkin dia bosan” pikir Choirul.

Matahari terlihat ditutupi oleh awan-awan, terlihat matahari mengintip dari gumpalan-gumpalan awan yang tersebar di langit yang biru itu. Hari semakin sore, Choirul dan adiknya beristirahat alias tidur siang. Mereka biasa menghabiskan waktu siang untuk tidur bila tidak ada acara di dalam maupun luar rumah.

Sebelum beranjak tidur, Choirul membuka laptop pemberian sang ayah ketika ia menginjak bangku SMA kelas tiga. Ia putar musik jazz kesukaannya sambil online mencari bahan-bahan mata kuliah yang akan ia hadapi dua hari kemudian, besok libur karena ada pemilu. Jadi dia akan mengikuti pemilihan umum legislatif untuk yang pertama kalinya, kebetulan besok adalah hari ulang tahunnya.

Media sosial seperti facebook-pun tak ia lewatkan saat online. Chatting dengan teman kuliah dan teman SMAnya dulu tak dilewatkannya saat membuka media sosial facebook. Facebook menjadi media sosial penghubung nomor dua setelah sms buat Choirul. Karena disamping kemudahan dalam mengoperasikannya, juga tampilannya cukup menarik. Tak lama kemudian, ia-pun terlelap tidur disamping laptop yang dalam keadaan masih menyala.

Ucapan salam terdengar jelas didepan pintu rumah Choirul, Assalamualaikum… . Sontak membangunkan Choirul dari tidurnya lalu membukakan pintu rumah seraya menengok siapa yang berada di balik pintu rumah. Ternyata petugas TPS mendatangi rumahnya untuk memberikan kartu pemilih sekaligus mensosialisasikan mengenai pelaksanaan pemilihan umum yang akan dilaksanakan esok harinya.

Sosialisasi ini biasa disampaikan petugas TPS, kadang anggota dari sebuah partai politik juga ikut mensosialisasikan hal ini saat menjelang dilaksakannya pemilihan umum. Hal ini perlu dilakukan untuk membuat pemilih tidak kebingungan saat akan memilih para caleg di tempat pemungutan suara.

Belum lagi, Choirul adalah pemilih pemula dimana ia akan memberikan suara untuk pertama kalinya, jadi sebuah sosialisasi dari pihak yang terkait dengan pemilu perlu mensosialisasikannya. Choirul sangat menyayangkan petugas yang akan mensosialisasikan tentang teknis pemilu di rumahnya dan esok harinya ia harus memilih.

Agar sosialisai mengenai pemilihan umum terutama pemilihan calon legislatif yang akan dilakasanakan esok hari berjalan efektif, seharusnya pelaksanaan sosialisasinya jauh-jauh hari. Sehingga para calon pemilih ini tidak kaget dan sudah mencari latar belakang para caleg yang akan dipilih. Sehingga para pemilih terutama bagi pemilih pemula tahu betul tentang karakter sang caleg, sehingga memilih sembarangan bisa di minimalisir.

Petugas TPS tidak bertamu terlalu lama di rumah Choirul, karena harus ke tempat lain untuk membagikan kartu pemilih pada warga yang lain. Pada kesempatan itu, Choirul menanyakan bagaimana tata cara memilih para caleg dan mekanisme didalamnya. Petugas TPS-pun memaparkan tentang mekanisme ataupun tata cara memilih yang benar kepada Choirul.

Hari-pun mulai gelap, matahari mulai tak menampakkan dirinya. Sehingga suara-suara pemanggil untuk sholat mulai terdengar ditelinga Choirul. Dan ia-pun segera mendirikan sholat di masjid dekat rumahnya.

Saat ayahnya baru datang dari kantor, Choirul dengan rasa keingin tahuannya bertanya kepada ayahnya ‘mengapa berita televisi dengan serentak menayangkan mengenai pemilu’ saat menyalakan televisi di ruang tengah, betapa tidak ia dapati sebuah sponsor yang menayangkan calon caleg yang ketika itu sudah tak diperkenankan yang namanya berkampanye oleh penyelenggara pemilihan legislatif. Seketika itu sang ayah menjawab “mengapa si A sebagai capres dan si B sebagai cawapres masih berkampanye?… bersambung.

Naskah ini sedang diikut sertakan dalam lomba menulis cerpen ‘Rektor Cup’ yang diadakan oleh UKM Teater Universitas Muhammadiyah Malang.

Advertisements

About Muhammad Choirul Rosiqin

I was born in Eastern Probolinggo, East Java, in 1994. I'm student of International Relations @University of Muhammadiyah Malang
This entry was posted in Short Story and tagged , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Vote, Hadiah Ulang Tahunku

  1. This is a great tip especially to those fresh to the blogosphere.
    Brief but very accurate info… Many thanks for sharing this
    one. A must read post!

    Like

  2. I visited various sites except the audio quality for audio songs existing at this site is truly excellent.

    Like

  3. Howdy! I’m at work surfing around your blog from my new iphone 4!
    Just wanted to say I love reading through your blog and look forward to all your posts!

    Keep up the fantastic work!

    Like

  4. You can definitely see your expertise in the article you write.
    The arena hopes for even more passionate
    writers like you who are not afraid to say how they believe.

    All the time follow your heart.

    Like

  5. You really make it seem so easy with your presentation but
    I find this topic to be actually something that I think I would
    never understand. It seems too complicated and extremely broad for me.
    I am looking forward for your next post, I will try to get the hang of it!

    Like

  6. Howdy! Do you use Twitter? I’d like to follow you if that would be okay.

    I’m undoubtedly enjoying your blog and look forward to new posts.

    Like

  7. I all the time used to read article in news papers but now as I am a user of net so from now
    I am using net for content, thanks to web.

    Like

  8. match.com says:

    I am regular reader, how are you everybody?
    This piece of writing posted at this web site is actually good.

    Like

Hey hey! What have you got to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s