Review: Gerakan Anti-Peperangan Sebagai Bagian Pergerakan Perdamaian

By : Muhammad Choirul RosiqinInternational Relations Student @University of Muhammadiyah Malang

(Analisa Kasus Gerakan Anti-Peperangan di Masa Perang Vietnam dan Perang Irak)

Abstract

            The growing of anti-war movement has become one new phenomenon related to global peace movement. Most of the anti-war movement had been recorded risen in both national and international level. This review paper contains mostly about the analysis toward anti-war movement during Vietnam War and Iraq War against US Government. Cortright has become the major source in analyzing both phenomenons as well as comparison between both. In short, this paper would present the growing and importance of global anti-war movement to the struggle of global peace.

Keywords: anti-war movement, Peace Movement, Vietnam War, Iraq War

Pendahuluan

HappinessGerakan-gerakan massa anti-peperangan yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat muncul dikarenakan adanya kesadaran bahwa perang banyak menghabiskan biaya disamping memiliki banyak kerugian lainnya baik material maupun non-material.

Cortright kemudian mengungkapkan mengenai bagaimana gerakan anti-peperangan ini memiliki pengaruh kuat dalam pengambilan kebijakan pemerintah. Dalam bukunya pada Bab “Refusing War” Cortright mengungkapkan dua contoh besar yaitu pada Perang Vietnam dan Perang Irak. Analisa dilakukan pada bagaimana gerakan ini kemudian mempengaruhi pengambilan keputusan Pemerintah AS. Selain itu Cortright juga membandingkan bagaimana pengaruh gerakan massa tersebut pada tindakan AS terhadap Perang Vietnam dan Perang Irak.

Gerakan Anti-Peperangan

Mark Barringer menyatakan bahwa gerakan anti-peperangan mulai menjadi signifikan pada 1960-an. Barringer menyatakan bahwa gerakan ini sebetulnya terdiri dari beberapa kepentingan independen, yang kebanyakan hanya tersatukan begitu saja dan mungkin bahkan saling bersaing satu sama lain mengenai isu-isu di samping isu tertentu, dan hanya bersatu pada oposisi terhadap Perang Vietnam.[1] Anggotanya pun bisa dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, kelas menengah, buruh, dan anggota pemerintahan.

Sementara itu, Lieberfeld juga setuju bahwa gerakan ini merupakan gerakan yang ditujukan pada Perang tertentu.[2] Gerakan ini biasanya terdiri dari kaum pasifis, dan liberal internasionalis yang selain ingin menghentikan perang tertentu juga ingin mencapai tujuan ideologisnya.

Cortright menyatakan bahwa gerakan anti-peperangan ini merupakan perwujudan dari pasifisme pragmatis, dimana gerakan-gerakan tersebut merupakan sebuah respon dari tindakan militer yang dianggap tidak seharusnya dilakukan dan tidak dapat diterima oleh kalangan masyarakat luas.[3]

Gerakan anti-peperangan ini kemudian menjadi pemicu perubahan keputusan oleh pemerintah yang dapat memberikan pengaruh besar pada berbagai peristiwa peperangan di dunia.

Beberapa pengaruh yang diberikan adalah penghentian pendanaan perang dari kalangan Kongres AS dan juga tekanan untuk proses negosiasi serta penarikan pasukan. Selain itu, terdapat juga pengaruh yang meluas baik di kalangan masyarakat, veteran maupun kalangan militer sendiri yang kemudian menghasilkan penghambatan eskalasi militer.

Gerakan Anti-Peperangan Pada Perang Vietnam

Protes terhadap keterlibatan AS di Perang Vietnam dimulai dengan adanya demonstrasi pada 1964. Masyarakat yang ikut serta dalam gerakan ini terdiri dari berbagai lapisan berbeda mulai dari mahasiswa, kalangan pendidikan, jurnalis, hukum, hingga dari kalangan militer sendiri.

Wells menyatakan bahwa protes pertama dilakukan sejak tahun 1963, namun hanya baru bisa dikatakan terlihat pada 1965 saat Presiden Johnson memerintahkan intervensi massif dan pemboman di Vietnam Utara.[4]

Di AS sendiri, diungkapkan oleh Cortright, perjuangan perwujudan perdamaian ini diwarnai dengan banyaknya perpecahan yang muncul di kalangan pejuang anti-peperangan tersebut. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan politik yang dimanifestasikan dalam gerakan tersebut. Namun, secara umum Cortright membagi gerakan-gerakan tersebut menjadi tiga kategori utama.

Pertama, gerakan “kiri-baru” atau yang disebut sebagai new left yang berasal dari gerakan radikal mahasiswa serta organisasi-organisasi pasifis. Salah satu organisasi yang ikut dalam gerakan ini adalah Student Peace Union dan Students for a Democratic Society (SDS).

Gerakan kedua muncul dari kalangan kiri-lama atau old left. Salah satu yang paling signifikan adalah Trotskyist Socialist Worker Party (SWP).

Ketiga, adalah kelompok gerakan yang liberal dan moderat. Mereka berusaha memberikan tekanan pada Kongres, dan berkomunikasi secara efektif dengan media dan menggunakan system pemilihan umum untuk mengakhiri perang. Protes pertama yang dilakukan oleh SANE bergabung dengan Americans for Democratic Action pada November 1964 mengerahkan 300 orang demonstran di depan Gedung Putih dengan nosi negosiasi untuk perdamaian.

Dengan adanya perbedaan metode yang digunakan ketiga golongan kelompok anti-peperangan ini, menimbulkan perbedaan pedapat di kalangan sejarawan mengenai kelompok mana yang paling banyak mempengaruhi kebijakan AS pada masa Perang Vietnam.

Usaha gerakan anti-peperangan pada masa Perang Vietnam diungkapkan dengan berbagai cara, termasuk juga dengan cara “mengancam” Presiden seperti yang dilakukan oleh gerakan masa di masa pemerintahan Presiden Johnson dan Nixon. Pada masa Johnson, masyarakat mengusung calon Presiden sebagai oposisi.

DeBennetti mengungkapkan bahwa walaupun 70% public oposisi terhadap perang pada 1971, namun kebanyakan dari mereka juga tidak setuju terhadap tindakan-tindakan demonstran yang menyalahi aturan.[5] Kebanyakan mereka yang merasa diresahkan adalah kelas menengah yang konservatif dan keberatan dengan berbagai tindakan seperti pembakaran, ketidakhormatan terhadap bendera Negara, dan munculnya budaya hippie.

Perang yang berkelanjutan artinya akan berimbas pada usah gerakan anti-peperangan yang terus berlanjut juga. Hal ini kemudian mendorong pemerintah untuk segera menuntaskan perang dan memenuhi tuntutan kelompok-kelompok tersebut untuk sekaligus menyelesaikan permasalahn sosial dalam negeri yang merupakan imbas dari usaha pergerakan anti-peperangan.

Gerakan Anti-Peperangan Pada Perang Irak

Melihat fenomena yang terjadi pada Perang Irak, gelombang protes massa dan gerakan anti-peperangan sudah muncul bahkan sebelum invasi Irak dilakukan. Pergerakan global melawan invasi Irak tidak dapat menghentikan invasi, namun gerakan tersebut tetap dapat mempengaruhi outcome politik di beberapa Negara dan juga memiliki pengaruh tertentu terhadap deliberasi pada Dewan Keamanan PBB, yang akhirnya juga mempercepat legitimasi dari PBB.[6]

Pada 15 Februari 2003 sekitar 10 juta orang di ratusan kota di seluruh dunia melakukan demonstrasi anti-perang dan dianggap merupakan hari dengan demonstrasi anti-perang terbesar di dunia.[7] Protes terhadap invasi Irak dikatakan lebih internasional karena semua yang terlibat dalam gerakan tersebut mengkoordinasikan diri mereka dalam perjuangan global.        Carty menyatakan hal ini merupakan pengejawantahan dari teori pergerakan sosial yang mempengaruhi kebijakan.[8] Hal ini juga berkaitan dengan political opportunity structures. Tentang bagaimana sebuah grup transnasional bisa memobilisasi massa, jaringan dan membentuk kesadaran public untuk menjadi oposisi besar dalam suatu isu tertentu.

Dewan Keamanan PBB tidak pernah memberikan persetujuan kewenangan untuk berperang. Hampir semua anggota Dewan Keamanan baik tetap maupun tidak tetap tidak memberikan persetujuan mereka. Hal ini dinyatakan oleh Immanuel Wallerstein sebagai “…the first time since the United Nations was founded that the United States, on an issue that mattered to it, could not get a majority on the Security Council”[9]

Sebagaimana diketahui, walaupun suatu Negara tergabung dalam salah organisasi Negara-negara dengan berbagai peraturan mengikat yang seharusnya tidak dilanggar, namun tidak ada batasan kekuatan tertentu yang membuat organisasi mampu menghalangi tindakan maupun mau member sangsi bagi Negara yang tidak mengikuti aturannya. Hal ini terjadi juga di PBB.

Menurut Clausewitz yang dikutip dalam Cortright menyatakan bahwa perang tidak selalu merupakan hasil secara militer yang diutamakan, namun merupakan perpanjangan dari usaha politis. AS dalam hal ini gagal mencapai tujuan politisnya dan justru mengalami kerugian baik secara administrasi maupun financial di dalam dan luar negeri.[10]

Sebuah Oposisi “War On Terror

Masih berkutat dengan kebijakan AS dalam invasi Irak. Hal ini kemudian berlanjut dengan munculnya motion “Global War on Terror” yang diungkapkan oleh George Bush setelah peristiwa 9/11. Namun, pada aktivis gerakan anti-peperangan mulai mencari dan melihat celah lain sebagai alternative dari “war on terror”. Salah satu alternatifnya adalah bahwa strategi konter-terorisme tidak bisa dilakukan dengan perang unilateral namun harus didasarkan pada kerjasama penegakan hukum. [11]

Gerald Schlabach menyebut ini sebagai teori “just policing”.[12] Berbagai usaha harus dilakukan terlebih dahulu tanpa menggunakan kekerasan. Secara umum dapat dikatakan bahwa gerakan anti-peperangan ini merupakan oposisi dari war on terror yang diungkapkan oleh George W. Bush. Oposisi bukan berarti kemudian mendukung terorisme, namun mencari alternative penanggulangan yang lain dengan tidak melibatkan perang atau kekerasan.

Kesimpulan

Munculnya berbagai gerakan anti-perang baik di level nasional maupun internasional menjadi fenomena baru. Walaupun secara historis hal ini bukan lagi merupakan hal baru, namun internasionalisasi dan juga kemampuannya untuk mempengaruhi kebijakan menunjukkan bahwa gerakan ini sangat signifikan.

Salah satu gerakan yang muncul adalah pada masa Perang Vietnam dimana gerakan tersebut muncul dari tiga golongan utama, yaitu golongan kiri-baru, golongan kiri-lama dan juga golongan liberal dan moderat. Ketiganya memiliki cara berbeda dalam mencapai tujuan masing-masing. Namun, secara umum semua berkontribusi penting dalam pencapaian penghentian Perang Vietnam. Munculnya gerakan ini menimbulkan banyak faktor yang akhirnya mendorong pemerintah AS untuk segera menghentikan Perang Vietnam.

Sementara di Iraq, gerakan ini lebih luas pada level internasional dimana para aktivis juga menyematkan semangat perjuangan global pada diri mereka. Walaupun pada akhirnya AS tetap melancarkan invasi pada Irak gerakan ini sudah dimulai sebelum invasi dilakukan namun gerakan ini mampu menangguhkan dukungan PBB terhadap AS dan menjadi salah satu masa dimana PBB mampu berdiri dengan integritasnya menjaga perdamaian dunia dibandingkan dengan mendukung AS.

Walaupun outcome dan proses yang dilalui berbeda, namun kedua gerakan tersebut mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian perdamaian global.

Reference:

[1]Mark Barringer dalam artikelnya The Anti-War Movement in the United States. Diakses dari http://www.english.illinois.edu/maps/vietnam/antiwar.html

[2]Daniel Lieberfeld dalam “What Makes an Effective Antiwar Movement? Theme-Issue Introduction”. Sebuah penelitian tentang bagaimana gerakan anti-peperangan dapat menjadi sangat efektif untuk menggerakkan masa dan juga mengubah kebijakan suatu pemerintahan. Lieberfeld juga menunjukkan kaitannya dengan positive peace. Hal.1-2

[3]Cortright, Chapter 8: Refusing War, dalam bukunya Peace: A history of Movements and Ideas. 2008. hal 156

[4]Tom Wells menyatakan dalam artikelnya mengenai anti-war movement di AS. Diakses pada halaman yang sama dengan artikel Mark Barringer (http://www.english.illinois.edu/maps/vietnam/antiwar.html)

[5]Op.Cit. Cortright hal. 162

[6]Op.cit. hal. 171

[7]Op.cit. hal. 172

[8]Op.cit Carty hal. 3

[9]Op.cit. Cortright hal 174

[10]Op.cit 176

[11]Ibid

[12]Ibid

Advertisements

About Muhammad Choirul Rosiqin

I was born in Eastern Probolinggo, East Java, in 1994. I'm student of International Relations @University of Muhammadiyah Malang
This entry was posted in Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik and tagged . Bookmark the permalink.

10 Responses to Review: Gerakan Anti-Peperangan Sebagai Bagian Pergerakan Perdamaian

  1. It’s very easy to find out any matter on net
    as compared to textbooks, as I found this article at
    this site.

    Like

  2. Hello this is somewhat of off topic but I was wondering if
    blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code
    with HTML. I’m starting a blog soon but have no coding knowledge so I wanted to get advice from someone with experience.
    Any help would be greatly appreciated!

    Like

  3. What’s up every one, here every one is sharing such
    knowledge, therefore it’s fastidious to read this webpage, and I used
    to visit this web site everyday.

    Like

  4. Great post. I used to be checking continuously this blog and I
    am impressed! Very helpful information particularly the last part :
    ) I take care of such information much. I was looking for
    this certain info for a very long time. Thanks and best of luck.

    Like

  5. I want to to thank you for this excellent read!! I absolutely loved every bit of it.
    I have you bookmarked to look at new stuff you post…

    Like

  6. Appreciate this post. Let me try it out.

    Like

  7. I’ll immediately grab your rss feed as I can’t find your e-mail subscription link or
    e-newsletter service. Do you’ve any? Please permit me understand in order
    that I may just subscribe. Thanks.

    Like

  8. There is definately a lot to know about this issue.
    I love all the points you made.

    Like

  9. Does your website have a contact page? I’m having trouble locating it but,
    I’d like to shoot you an e-mail. I’ve got some creative ideas for your blog you
    might be interested in hearing. Either way, great blog and I look forward to seeing it grow over time.

    Like

  10. You can definitely see your enthusiasm within the article you write.
    The sector hopes for more passionate writers
    like you who are not afraid to mention how they believe.
    All the time follow your heart.

    Like

Hey hey! What have you got to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s