Resume Aliran/ Mazhab Sosiologi

By : Muhammad Choirul RosiqinInternational Relations Student @University of Muhammadiyah Malang

Muhammad Choirul Rosiqin

1. Mazhab Geografi dan Lingkungan

Dalam ajaran atau teori pada mazhab ini berkeyakinan bahwa masyarakat itu hanya bisa mungkin timbul dan berkembang apabila ada tempat berpijak dan tempat hidup bagi masyarakat tersebut. Dari sekian banyaknya teori-teori, yang termasuk ke dalam mazhab ini salah satunya adalah ajaran dari Edward Buckle (Inggris: 1821-1862) dan Le Play (Perancis: 1806-1888)[1].

Di dalam analisisnya, Buckle telah menemukan beberapa keteraturan hubungan antara keadaan alam dengan tingkah-laku manusia. Misalnya, terjadi bunuh diri sebagai akibat rendahnya penghasilan, dan tinggi-rendahnya penghasilan tergantung dari keadaan alam (terutama iklim dan tanah).

Le Play mempunyai kesimpulan-kesimpulan yang sama dengan Buckle, walaupun cara analisisnya agak berbeda. Menurutnya, organisasi keluarga ditentukan oleh cara-cara mempertahankan hidupnya yaitu cara mereka bermata pencaharian. Pengikutnya mengembangkan teori tersebut. Hal itu dilakukan agar dapat mengumpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan sosial. Hingga pada awal abad ke-20, muncul karya Huntington (1915) yang berjudul Civilization and Climate. Di dalam buku tersebut diuraikan bahwa mentalitas manusia ditentukan oleh faktor iklim.

Pentingnya mazhab ini adalah bahwa ajaran-ajaran atau teori-teori menghubungkan faktor keadaan alam dengan faktor-faktor struktur serta organisasi sosial. Ajaran dan teorinya mengungkapkan adanya korelasi antara tempat tinggal dengan adanya aneka ragam karakteristik kehidupan sosial suatu masyarakat tertentu.

2. Mazhab Organis dan Evolusiuner

Sejak abad pertengahan banyak ahli pikir masyarakat yang mengadakan analogi antara masyarakat manusia dengan organisme manusia. Diantaranya yaitu Herbert Spencer (1820-1903). Dalam bukunya yang berjudul Principles of Sociology; Jilid 3[2], berpendapat bahwa pada masyarakat industri yang telah terdeferensiasi dengan mantap, akan ada suatu stabilitas yang menuju pada keadaan hidup yang damai.

Pengaruh ajaran Spencer sangatlah berpengaruh di Amerika Serikat. Salah satunya adalah W.G. Summer (1840-1910), karyanya Folkways yang termasuk karya klasik damam kepustakaan sosiologi. Folkways dimaksudkan dengan kebiasaan-kebiasaan sosial yang timbul secara tidak sadar dalam masyarakat. Emile Durkheim (1855-1917) dalam karyanya Division of Labor, menyatakan bahwa unsur baku dalam masyarakat adalah faktor solidaritas (mekanis dan organis).

3. Mazhab Formal

Ahli-ahli pikir dari mazhab ini kebanyakan dari Jerman yang sangat dipengaruhi oleh Immanuel Kant. Salah satunya adalah George Simmel (1858-1918)[3], menurutnya elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur hubungan antara elemen-elemen tersebut. Selain itu, berbagai lembaga dalam masyarakat terwujud dalam bentuk superioritas, subordinasi, dan konflik. Semua hubungan-hubungan sosial, keluarga, agama, peperangan, perdagangan, kelas-kelas dapat diberi karakteristik menurt salah satu bentuk diatas atau ketiga-tiganya. Seseorang menjadi warga masyarakat untuk mengalami proses individualisasi dan sosialisasi.

4. Mazhab Psikologi

Gabriel Tarde (Prancis: 1843-1904)[4] awalnya menduga atau memandang bahwa gejala sosial itu mempunyai psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu dimana jiwa tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan. Bentuk-bentuk utama dari interaksi mental individu-individu adalah imitasi, oposisi dan adaptasi atau penemuan baru, dengan demikian mungkin terjadi perubahan sosial yang disebabkan oleh penemuan-penemuan baru.

Keinginan utama Tarde adalah berusaha untuk menjelaskan gejala-gejala sosial di dalam kerangka reaksi-reaksi psikis seseorang. Ajaran ini sangat berpengaruh di Amerika, dimana banyak sosilog yang mengadakan analisis terhadap reaksi-reaksi individu terhadap individu, maupun dari kelompok terhadap kelompok lainnya. Diantaranya adalah Albion Small (1854-1926), Richard Horton Cooley (1864-1924). Sedangkan tokoh terkenal dari Inggris ada L.T. Hobhouse (1864-1929).

5. Mazhab Ekonomi

Menurut Karl Marx (1818-1883)[5], selama masyarakat masih terbagi atas kelas-kelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan. Hukum, filssafat, agama dan kesenian merupakan refleksi dari status ekonomi kelas tersebut. Namun demikian, hukum-hukum perubahan berperan dalam sejara, sehingga keadaan tersebut dapat berubah baik melalui suatu revolusi maupun secara damai. Akan tetapi, selama masih ada kelas yang berkuasa, maka tetap terjadi eksploitasi terhadap kelas yang lebih lemah. Oleh karena itu, selalu timbul pertikaian antara kelas-kelas tersebut, yang akan berakhir apabila salah satu kelas (yaitu kelas proletar) menang sehingga terjadilah masyarakat tanpa kelas.

Menurut Marx Weber (1818-1920), semua bentuk organisasi sosial harus diteliti menurut perilaku warganya, yang memotivasi serasi dengan harapan warga-warga lainnya. Untuk mengetahui dan menggali hal ini perlu digunakan metode pengertian (Verstehen).

6. Mazhab Hukum

Durkheim (1855-1917)[6] dalam sorotannya terhadap masyarakat, menaruh perhatian yang besar terhadap hukum yang dihubungkannya dengan jenis-jenis solidaritas yang ada dalam masyarakat. Hukum menurut Durkheim adalah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat ringannya tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan, serta keyakinan masyarakat tentang baik buruknya suatu tindakan. Di dalam masyarakat dapat ditemukan dua macam sanksi kaidah-kaidah hukum, yaitu sanksi yang represif dan sanksi yang restitutif.

Tujuan utama kaidah-kaidah hukum adalah untuk mengembalikan keadaan pada situasi semula, sebelum terjadi kegoncangan sebagai akibat dilanggarnya suatu kaidah hukum. Artinya, yang terpokok adalah untuk mengembalikan kedudukan seseorang yang dirugikan ke keadaan semula, yang merupakan hal yang penting di dalam menyelesaikan perselisihan-perselisihan atau sengketa-sengketa.

Max Weber (1818-1920)[7] yang berpendidikan hukum dapatlah digolongkan dalam mazhab ini. Menurutnya ada empat tipe hukum ideal, yaitu: Hukum irasional dan materiil, Hukum irasional dan formal, Hukum rasional dan materiil, dan Hukum rasional dan formal.

Lawrence M. Friedmann memperkenalkan konsepsi budaya hukum (legal culture) di Amerika Serikat pada tahun 60-an lewat tulisannya yang berjudul “Legal Culture and Social Development” di dalam Law and Society Review, nomor ¼ (1969) halaman 29-44. Budaya hukum pada hakikatnya mencangkup dua komponen pokok yang saling berkaitan, yaitu nilai-nilai hukum substantif dan nilai-nilai ajektif. Menurut Daniel S. Lev tentang konsepsi budaya hukum dalam artikelnya yang berjudul “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia (1972),” itu menunjuk pada nilai-nilai yang berkaitan dengan hukum dan proses hukum.

7. Mazhab Kritis ( Frankfurt School) Mazhab Postmodern dan After Postmodern

Aliran pemikiran ini lebih senang menyebut dirinya sebagai ideologically oriented inquiry[8], yang merupakan suatu wacana atau cara pandang terhadap realitas, yang mempunyai orientasi ideologis terhadap paham tertentu. Teori kritis ini merupakan salah satu kritik terhadap positivisme dalam ilmu sosial. Kritik ini dilancarkan oleh mazhab Frankrut School, yang mulai eksis kehadirannya pada tahun 1923. Crozier (1991), Held (1990), dan Tar (1979) mengatakan bahwa Teori Kritis bukan “a single or unified approach”. Selanjutnya mengalami perkembangan dalam dua generasi. Pertama, dimulai pada tahun 1923, melalui pemikiran dari Institute of Social Research, yang kemudian dikenal sebagai The Frankfurt School dan berakhir 50 tahun kemudian, setelah meninggalnya Horkheimer (1973) sebagai tokoh generasi pertama Teori Kritis. Generasi kedua dimulai dengan adanya usaha-usaha dari Jurgen Habermas. Hurbert mencatat ada tiga karakteristik dari Teori Kritis yang dikembangkan Horkheimer.

Pertama, Teori Kritis diarahkan oleh suatu kepentingan perubahan fundamental pada masyarakat. Kedua, Teori Kritis dilandaskan pada pendekatan berpikir historis. Ketiga, Teori Kritis ada untuk upaya pengembangan berpikir komprehensif.

Mazhab Frankfurt, terutama tokoh-tokohnya Horkhaimer, Adorno, dan Marcuse, melihat bahwa sejarah penindasan masih terus berlangsung bahkan di masa modern sekarang ini. Mereka melihat dialektika pencerahan yang diawali dengan kebangkitan fajar budi dari belenggu mitos dan teologi telah berubah menjadi penindasan baru. Dialektika yang terjadi menurut mereka hanyalah dilihat dari sudut pandang positif (kemajuan iptek yang kan menghasilkan kesejahteraan dan kesempurnaan). Tetapi sejarah pencerahan telah terbalik kembali menjadi mitos baru yang membelenggu harkat dan martabat kemanusian. Perkembangan rasionalitas menurut mereka tidak lagi mengabdi pada kepentingan praksis moral (how to run a good life), melainkan menjadi suatu dominasi rasio instrumental.

Kritik teori kritis terhadap masyarakat modern menghujam pada satu sasaran, yakni rasio instrumental. Rasio instrumental[9] adalah rasio yang melihat realitas sebagai potensi untuk dimanipulasi, ditundukkan, dan dikuasai secara total. Rasio instrumental memandang realitas (alam maupun manusia) sebagai objek untuk diklasifikasi, dikonseptualisasi, ditata secara efisien untuk tujuan apa pun yang dianggap penting oleh kekuasaan.

[1] Prof. DR. Soerjono Soekanto dan DRA. Budi Sulistyowati, M.A, Sosiologi: Suatu Pengantar (Edisi Revisi), (Jakarta: Rajawali Press, 2013), hal. 32.

[2] Ibid, hal. 34

[3] Ibid, hal. 36.

[4] Ibid, hal. 37-38.

[5] Ibid, hal. 38-39.

[6] Paul Carls, Émile Durkheim (1858—1917), Internet Encyclopedia of Philosophy: A Peer-Reviewed Academic Resource, dalam http://www.iep.utm.edu/durkheim/, diakses pada 23/10/2014, 13:34 WIB.

[7] Op. Cit., hal. 40.

[8] Adam Podgorecki CJ Whelan, Sociological Approach to Law, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hal. 398. Dalam Yesmil Anwar dan Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, (Jakarta: PT Grasindo, 2008), hal. 58-59.

[9] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer, (Yogyakarta: Jalasutra , 2006), hal 54.

Advertisements

About Muhammad Choirul Rosiqin

I was born in Eastern Probolinggo, East Java, in 1994. I'm student of International Relations @University of Muhammadiyah Malang
This entry was posted in Pengantar Sosiologi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Resume Aliran/ Mazhab Sosiologi

  1. My partner and I stumbled over here from a different website and thought I might check
    things out. I like what I see so now i am following you.

    Look forward to looking into your web page for a second time.

    Like

Hey hey! What have you got to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s