Former Yugoslavia and Iraq: a comparative analysis of international conflict mismanagement (a review)

By : Muhammad Choirul RosiqinInternational Relations Student @University of Muhammadiyah Malang

BAB 5 dalam Handbook of Peace and Conflict Studies, tulisan dari Jan Oberg[1].

Former Yugoslavia and Iraq; a comparative analysis of international conflict mismanagementSalah satu tujuan ditulisnya bab ini adalah untuk menyoroti beberapa kesamaan utama dan perbedaan antara dua kasus dari perspektif manajemen konflik internasional. Artinya, meskipun kedua dinamika konflik internal sebelumnya yang sangat kompleks pada Yugoslavia dan Irak, analisis memberikan prioritas kepada pertanyaan: Apa yang dilakukan komunitas internasional dalam dua kasus tesebut dan sejauh manakah kebijakan manajemen konflik yang serupa diterapkan atau setidaknya mengindikasikan filosofi dasar yang sama?

Studi perdamaian dalam hal ini telah melalui jalan yang panjang dan bidang ini menawarkan dua sudut pandang yang berbeda: (1) apakah telah mencapai perdamaian dan bagaimana; dan, jika tidak, mengapa? dan (2) apa yang bisa dipelajari tentang kasus Irak dengan mempelajari kasus Balkan, dan sebaliknya, dan pola umum apa yang berulang meskipun negara, masalah  dan budaya mereka sangat berbeda?

Tujuan lain, yang telah dikatakan dalam judul bab ini, adalah usntuk menunjukkan bagaimana kedua kasus menampilkan  karakteristik yang lebih menunjukkan kepada urusan dari manajemen konflik. Ini berarti bahwa kasus penting dari kesempatan yang telah hilang untuk mengupayakan perdamaian sejati yang sedang disorot.

  • Some similarities between former Yugoslavia and Iraq (sebagai formasi konflik dan sebagai obyek manajemen konflik internasional).

1. Peran kepemimpinan yang menantang hegemoni Barat

Jan Oberg, the writer of this chapter. (Source: You Tube)

Jan Oberg, the writer of this chapter. (Source: You Tube)

Kedua negara bercita-cita untuk mewujudkan peran kepemimpinan dalam organisasi yang memiliki pandangan skeptis terhadap hegemoni Barat: Yugoslavia dalam gerakan Non-Blok, Irak di pan-Arab, gerakan nasionalis, misalnya Liga Arab. Keduanya merupakan negara yang telah berusaha keras untuk mengukir citra untuk diri mereka sebagai Negara yang ‘berbeda’, tidak sepenuhnya dengan blok AS/ NATO juga dengan blok Soviet Union/ Pakta Warsawa.

2. Waktu global dan ruang

Meskipun konflik yang mendasari hal tersebut telah lama,  pecahnya kekerasan yang menarik perhatian masyarakat internasional pada waktu yang sama, yaitu: Irak menginvasi Kuwait pada musim gugur 1990 dan kekerasan terjadi di Slovenia dan Kroasia di musim semi 1991.

3. Pengabaian kompleksitas sosial atau kesalahpahaman masyarakat Internasional

Formasi konflik dimunculkan oleh mereka (beberapa pengambil keputusan internasional dan media) dalam bentuk dua pihak yang saling bertentangan: mayoritas dari Ortodoks Serbia/ Serbia vs sisanya. Perjanjian Dayton untuk Bosnia-Herzegovina dan konstruksi lainnya didasarkan untuk menyederhanakan interpretasi dari kompleksitas yang luar biasa; misalnya, ditetapkan bahwa republik ini terdiri dari tiga negara murni saja, umat Islam/ Bosnia, orang Kroasia dan Serbia.

Kesan dominan pada Irak masih digunakan di Barat adalah bahwa hal itu terdiri dari tiga kelompok signifikan yang berbeda: kaum Syiah mayoritas di bagian selatan, Sunni minoritas di tengah-tengah ‘segitiga’ dan Kurdi di utara.

Pada tingkatan yang lebih tinggi identitas Yugoslavia hanya diakui oleh minoritas kecil saja dan itu jauh lebih lemah bahkan pada hari-hari kepemimpinan Tito daripada identitas Iraqicum-Arab tergabung di IraqNational-etnis yang merupakan dimensi yang dominan pada bekas Yugoslavia, keluarga besar dan klan-klan jauh lebih memahami masyarakat Irak.

4. Orang yang berkuasa merasa harus mempertahankan negara-negara mereka yang pernah loyal ke AS/ Inggris dan negara-negara Barat lainnya, telah melakukan penyimpangan dan dengan demikian layak dikutuk oleh masyarakat internasional

Tito telah berulang kali disebut sebagai ‘diktator’ pada 1990-an oleh politisi dan komentator Barat. Saddam Hussein, orang terkuat di Irak, tidak diragukan lagi lebih kejam daripada Tito dan Milosevic dan lebih terobsesi dengan pemujaan kepada dirinya sendiri. Hal ini merupakan hal yang umum bagi ketiganya dalam melakukan peran pribadi sebagai sekutu Barat selama Barat membutuhkan mereka untuk memainkan peran yang kompatibel dengan kepentingan mereka sendiri.

5. Negara yang terletak di faultlines budaya dengan sejarah makro dengan intervensi asing dan penghinaan serta keinginan untuk tampil kuat

Yugoslavia dan Irak telah merasakan dampak perang dan kehancuran, pasukan asing dan negara besar yang berusaha mencari celah untuk menempati, membagi dan memerintah mereka.

Keduanya selama berabad-abad terletak di faultlines dari pencampuran peradaban, kepentingan strategis negara-negara besar dan perjuangan ideologi. Kedua negara warga ini memiliki banyak senjata dan amunisi yang disimpan di rumah mereka; jika pertahanan nasional gagal, mereka bisa beralih ke perjuangan gerilya seperti itu dan tidak ada yang dapat mengendalikan mereka. Dalam doktrin pertahanan mereka, Yugoslavia membuat gunung-gunung menjadi benteng pertahanan yang terbaik, ruang kota Irak dan ruang bawah tanah untuk hal-hal politik.

6. Melawan AS dan Eropa dengan tidak menerima perintah politik mereka atau globalisasi neo-liberal

Pemahaman yang dibawa oleh Tito, Yugoslavia tidak sesuai dengan Barat; dikarenakan Yugoslavia merupakan salah satu anggota pendiri dari gerakan Non-Blok dan berdiri di luar pembentukan konflik Pakta Warsawa-NATO.

Saddam Hussein juga adalah pemimpin berpikiran bebas yang tidak menerima perintah. Partai Baath, menyadari sepenuhnya kekayaan minyak yang banyak dari Irak, tidak ada kecenderungan untuk turut serta dalam ranah globalisasi; mengolahnya menjadi bahan bakar akan lebih baik daripada menjadi objek globalisasi.

Pendorong alami politik dan apa yang benar-benar penting bagi Amerika Serikat dan Eropa dalam Real Psyko-Politik adalah bahwa seseorang tidak lagi menaati mereka dan tetap bersikeras karena mereka melihat semacam sosialisme. Selain itu, mereka menolak untuk tunduk atau menjadi pion dalam permainan agenda neo-liberal untuk globalisasi dan tatanan dunia unipolar di bawah pimpinan AS. Sebagai krisis yang masih terhubung, baik Milosevic dan Saddam menantang dan menuntut serangkaian ancaman yang dilakukan oleh Barat/ AS.

7. Menerapkan sanksi ekonomi dan konsekuensi sosial

Irak mengalami sanksi ekonomi dalam sejarah paling komprehensif dan ketat dari Agustus 1990 hingga Mei 2003. Perempuan dan anak-anak khususnya meninggal karena gizi buruk dan kurangnya obat-obatan, serta konsekuensi sosial keseluruhan sanksi terhadap Irak pada sektor kesehatan, penelitian, pendidikan dan infrastruktur. Dewan Keamanan PBB memutuskan embargo senjata yang berkaitan dengan semua bagian dari Yugoslavia pada tahun 1991.

Dewan Keamanan memberlakukan sanksi ekonomi selektif pada Serbia dan Montenegro pada Mei 1992 dan di Serbia Bosnia dan pada  pada tahun 1994. Keduanya diangkat lagi pada akhir 1996. Penderitaan manusia jauh lebih kecil daripada di Irak, dapat dikatakan bahwa pada tahun 2006 Serbia belum pulih dari efek gabungan dari sanksi dan pemboman pada tahun 1999. Efek dari sanksi psiko-politik telah menunjukkan karakteristik serupa.

8. Penyerdehanaan analisis konflik dualistik

Dalam kasus Irak ada dua dikotomi yaitu: (a) kejahatan Saddam terhadap rakyat Irak dan (b) Saddam terhadap wilayah tetangga di (Kuwait dan Israel)/ ancaman bagi seluruh dunia. Dalam kasus Yugoslavia, pada dasarnya pengelompokan terjadi pada orang-orang Serbia yang jahat dan sisanya merupakan orang yang baik, tidak bersalah dan menjadi korban, yaitu Kroasia, Bosnia dan para Albania di Kosovo.

9. Perlakuan yang berbeda dan diskriminatif terhadap kaum minoritas

Dalam pemahaman Barat kaum Minoritas di Irak sering diabaikan, pada umumnya adalah mereka yang tidak Syiah, Sunni atau Kurdi seperti Assyria, Yahudi, Kristen, Mandean, Turkoman dan Romas. Barat telah berkonsentrasi sepenuhnya untuk mendukung salah satu minoritas, Kurdi di Utara. Yang tidak layak disebut minoritas di yugoslavia terdahulu, tentu saja orang-orang Serbia. Barat demi semua tujuan praktis, pemihakan terhadap pemerintah Kroasia otoriter-nasionalis di bawah Dr Franjo Tudjman, bukan kepada 12% masyarakat serbia yang mana mereka adalah korban dari Perang Dunia II muncul ke permukaan ketika mereka mendengarkan pidato dan mengamati kebijakannya.

Ini adalah fakta yang mendukung hipotesis bahwa Serbia  juga  mungkin memiliki alasan ketika mereka merasa dikecewakan dan diskriminasi oleh masyarakat internasional. Di antara minoritas Yugoslavia lainnya tidak disebutkan oleh Barat adalah Gorani, Mesir dan Romas khususnya di Kosovo, serta mereka yang menganggap diri mereka sebagai Yugoslavia dan sebagaian Bosnia dan siapa saja yang merasa bahwa dia adalah campuran asal dan tidak ingin identitas etnis sama sekali.

10. Pembagian Uni Eropa

Mengenai konflik Irak, itu juga diketahui bahwa Jerman dan Perancis menentang perang butalso bahwa mereka tidak memiliki rencana alternatif dan tidak mengambil inisiatif politik untuk secara aktif mencegah perang dibawah pimpinan AS. Italia, Belanda, Denmark, Spanyol dan anggota Uni Eropa lainnya untuk mencegah mengirim pasukan untuk mendukung invasi dan pendudukan.

Sederhananya, konflik di Yugoslavia dan Irak membuat jelas bahwa Uni Eropa belum mampu membentuk kebijakan umum yang koheren yang bisa berfungsi, di mata orang lain, sebagai semacam alternatif untuk hegemoni AS. Hal ini juga terbukti dapat dimanfaatkan sebagai sikap yang luas dan sangat negatif dimana para warga haruslah mengikuti kebijakan luar negeri AS di negara-negara sekutu NATO, di Timur Tengah dan tempat lain.

11. Prinsip perdamaian dengan cara damai diabaikan

Penanganan masyarakat internasional dari bekas Yugoslavia dan Irak didirikan atas dasar prinsip untuk menghukum orang-orang jahat daripada menguntungkan orang-orang yang baik, dan pada penerapan kekerasan segala cara damai telah dicoba dan sia-sia. Berbeda dengan kasus Irak, banyak konferensi, rapat, konsultasi dan proses berlangsung dalam kasus bekas Yugoslavia. Hal ini manajemen konflik Barat secara konsisten mengabaikan kekuatan lokal untuk perdamaian serta proposal dibangun pada Piagam PBB  yang menekankan perdamaian dengan cara anti kekerasan.

Ada dua poin penting, yaitu: Pertama dan terpenting, mungkin 95-98 persen dari warga biasa menentang perang; mereka korban elit militer dan politik dan mafia, mereka sendiri serta orang-orang dari pihak yang saling bertentangan lainnya. Kedua, pemimpin non-nasionalis moderat yang juga membenci kekerasan di berbagai tingkatan dan hal ini mendapatkan perhatian yang kurang dari media asing, diplomasi atau organisasi internasional.

Masyarakat internasional memilih untuk berdamai dari atas ke bawah, secara intensif  terhadap presiden dan para pemimpin militer dan memilih solusi untuk berkomitmen terhadap pencegahan kekerasan. Situasi hari ini pada Yugoslavia dan di Irak, merupakan hasil hipotesis yang masuk akal bahwa masyarakat internasional mungkin telah berhasil menciptakan perdamaian lebih asli, sedikit demi sedikit untuk mengurangi kekerasan dengan memanfaatkan dengan  baik potensi perdamaian di masyarakat sipil.

12. PBB menjadi korban dari manajemen konflik internasional

Di Irak, PBB terpaksa memainkan peran ganda yang bertentangan. Fokus media sangat bias pada program minyak yang hanya untuk pangan dan tidak melakukan keadilan untuk seluruh spektrum kegiatan PBB di negara itu.

Kehadiran PBB di berbagai negara bekas bagian Yugoslavia itu terdiri dari tiga jenis yang terintegrasi, yaitu penjaga perdamaian militer, polisi dan urusan sipil, yang hanya disebut sebagai salah satu faktor pertama untuk menarik perhatian media. Dari sudut pandang PBB ada beberapa faktor yang memperburuk situasi di wilayah tersebut. Pertama, adanya misi yang dikombinasikan secara minim atau tidak ada perencanaan jangka panjang. Kedua, masalah yang berat diperparah dengan sangat berlawanannya apa yang sering dinyatakan pada saat itu, yaitu bahwa masyarakat internasional tidak terlalu sedikit terlambat di bekas Yugoslavia.

13. Kegagalan manajemen konflik dan perdamaian karena kurangnya kompetensi

Tak satu pun dari mereka yang ditunjuk untuk menengahi di tanah bekas Yugoslavia, analisis konflik, mediasi dan negosiasi keterampilan, tanpa kekerasan, rekonsiliasi atau pengampunan. Meskipun mereka adalah diplomat karir, mantan pejabat tinggi, militer, banyak yang terlatih sebagai pengacara.

Survei penulis dari dari Amerika yang datang setelah pendudukan di Irak menunjukkan bahwa tidak ada salah satu orang-orang tersebut yang memiliki latar belakang profesional, katakanlah, rekonstruksi pasca-perang, perdamaian, rekonsiliasi, negosiasi, analisis konflik dan resolusi yang akan dianggap relevan untuk tugas membangun demokrasi, damai, adil dan aturan-aturan baik untuk Irak yang baru.

  • Some differences between the two cases (ada perbedaan antara kedua negara dan wilayah dan antara manajemen konflik yang diterapkan kepada mereka oleh masyarakat internasional).

1. Struktur negara yang berbeda, pembentukan konflik dan perang

By ; Muhammad Choirul Rosiqin, International Relations Student @University of Muhammadiyah MalangYugoslavia adalah bagian federasi konstituen dengan menciptakan prakondisi bagi perang saudara sejak 1970-an. Irak bukanlah konfederasi maupun federasi dan belum pernah melihat perang saudara. Tapi kemudian ada kesamaan dalam perbedaan tersebut, yaitu: Irak menginvasi Kuwait dan harus dihukum untuk itu, hal ini mirip dengan penafsiran bahwa Serbia telah memulai cerita untuk Yugoslavia dengan menyerang republik lain dengan tujuan menciptakan sebuah Negara yang bernama ‘Serbia’ .

Dalam kasus Irak, pembentukan konflik secara keseluruhan terlihat berbeda. Karena minyak, Irak lebih penting bagi masa depan jangka panjang untuk Amerika Serikat dan Eropa daripada bekas Yugoslavia itu. Irak adalah bagian yang lebih luas di Timur Tengah dalam pembentukan konflik dengan semua prestise yang diinvestasikan untuk Barat. Tidak ada yang sebanding dalam pembentukan konflik di Yugoslavia.

2. Struktur ekonomi yang berbeda

Irak sangat tergantung pada penjualan produk minyak meskipun itu adalah sektor negara yang kuat dikombinasikan dengan beberapa fungsi pasar swasta. Ekonomi dan infrastruktur Irak sengaja dihancurkan oleh sanksi ekonomi sebelum perang. Yugoslavia memiliki perekonomian yang lebih terdiversifikasi, meskipun itu memiliki sektor negara yang kuat dikombinasikan dengan beberapa fungsi pasar swasta. Pada Yugoslavia (Serbia dan Montenegro tepatnya) kurang kejam dan berturut-turut mengenakan bawah negara bersamaan dengan perang.

3. Perbedaan budaya dan tingkat kontak dan pemahaman

Jarak budaya ke Irak jauh lebih besar daripada Yugoslavia. Banyak orang Eropa telah mengunjungi Yugoslavia sebagai wisatawan di beberapa tempat dan pemerintah terus kedutaan mereka di Belgrade dan berturut-turut mendirikan representasi ketika republik baru ini muncul. Barat membuat Muslim di Bosnia dan Kosovo sebasgai sekutu terdekat mereka (bersama-sama dengan Kroasia), sanksi yang menewaskan ratusan ribu Muslim di Irak.

4. Jumlah pendudukan AS terhadap sebagian UN-NATO-OSCE-Uni Eropa pendudukan

Irak adalah contoh dari invasi dan pendudukan di bawah kendali de facto dari Amerika Serikat.  Pendudukan Irak adalah unilateral, semua wilayah dan menyeluruh; satu-satunya hal yang agak mirip adalah Kosovo, bagian kecil tapi penting dari mantan Yugoslavia yang multilateral oleh empat organisasi yang disebutkan di bawah kepemimpinan PBB.

5. Sebuah perang dingin dan perang anti-terorisme

Invasi dan pendudukan Irak pada tahun 2003 menambah dimensi penting dari perubahan persepsi AS pada 11 September 2001, yaitu apa yang disebut perang melawan terorisme. Irak dan pemimpin mereka dan Serbia dan pemimpin mereka mundur dan brutal dibandingkan dengan ‘kita’ sudah cukup untuk mendukung budaya perang psikologis melawan masyarakat Barat untuk membuatnya menerima perang yang sebenarnya ketika itu terjadi.

6. Perbedaan kemungkinan konsekuensi pengaturan dunia

Drama pembubaran Yugoslavia tidak diragukan lagi memberikan pengaruh yang luar biasa pada politik Eropa. Ini menantang identitas Eropa dan kohesi Uni Eropa. Ini melebar kesenjangan, setidaknya untuk jangka waktu, antara Eropa dan Amerika.

Meskipun dampak berat yang terjadi pada Yugoslavia di politik Eropa, itu akan memiliki konsekuensi luas bagi tatanan global dan Irak. Karena koneksi, permasalahan kasus Irak dengan nuklir (WMD), pembentukan konflik yang lebih luas Timur Tengah, dengan bahan baku strategis, dengan dasar proliferasi US dan dengan apa pun yang mungkin terjadi di masa depan dalam dua negara-negara tetangga yang memiliki minyak, yaitu, Iran dan Arab Saudi, adalah wajar untuk menyimpulkan bahwa kasus Irak membawa implikasi yang lebih jauh dari Yugoslavia bagi dunia di masa depan.

Dalam kasus Irak harapan tersebut gagal. Sebaliknya, kombinasi Perang Dunia II-Yugoslavia-seperti perjuangan melawan penjajah asing dikombinasikan dengan perang sipil berputar keluar dari

  1. ketidaksepakatan mendasar antara kelompok, tentang bagaimana menangani penjajah,perpecahan
  2. internal antara etnis, agama, suku, garis perbatasan geografis, dll, dan
  3. perjuangan untuk kemerdekaan di bagian Utara (Kurdistan) dan pasukan separatis Syiah di Selatan yang didukung oleh Iran adalah skenario yang mungkin terjadi.
  • A few selected lessons to learn from the two cases (penulis akan menyatakan berdasarkan pengalaman dengan diagnosis, prognosis di bekas Yugoslavia dan Irak)

Mitigasi konflik sukses atau manajemen membutuhkan komprehensif, diagnosis berisi pembentukan konflik yang lebih luas, bukan hanya dari dua aktor utama pada tahap medialized. Meremehkan atau mengabaikan dimensi sosial-psikologis manusia Konflik mencegah resolusi konflik asli, perdamaian dan stabilitas. Manajemen konflik yang sukses membutuhkan peringatan dini dengan diagnosis, dini mendengarkan dengan prognosis dan tindakan dini dengan pengobatan.

Manajemen konflik asli tidak sesuai dengan simultan promosi kepentingan sendiri seseorang dan bermain peran ganda lainnya. Idealnya, manajemen konflik dapat dilakukan hanya oleh aktor ‘tertarik’ yang tidak memiliki kepentingan dalam hasil tertentu dari konflik. Sanksi yang kontraproduktif dari sudut pandang konflik-manajemen. Manajemen konflik yang mengutamakan ancaman militer dan sarana dan abaian ‘perdamaian dengan cara damai’ serta potensi ketenangan sipil masyarakat di zona konflik pasti akan gagal. Serangan sistematis pada PBB dan erosi seiringnya fungsi charter normatif dan ketentuan harus dihentikan. Politik dan media harus mengintegrasikan pengetahuan dari studi perdamaian dan konflik. Kita perlu lebih cermat dan penilaian kritis terhadap diri sendiri dari manajemen konflik Barat, baik pemerintah dan non-pemerintah/ sipil organisasi masyarakat.

[1] The author’s background for writing about former Yugoslavia and Iraq is 30 years in academic peace and conflict research and exactly as many years of on-and-off studies of and some 80 visits (and 3,000 interviews at all social levels) to former Yugoslavia, about which he has produced several hundred pages of articles and book chapters. He visited Iraq – Baghdad, Babylon and Basra – twice in 2002 and 2003, altogether for one month, and conducted some 160 interviews with people from the top leadership to people in the bazaars and countryside. Most of his English-language writings on Iraq can be found at http://www.transnational.org/forum/meet/TFF_Forum_Iraq.html. He has also written a book Predictable Fiasco: On the Conflict with Iraq and Denmark as an Occupying Power (in Danish), (2004) Copenhagen: Tiderne Skifter. Thus, this chapter is based on academic studies integrated with personal impressions and experiences.

Advertisements

About Muhammad Choirul Rosiqin

I was born in Eastern Probolinggo, East Java, in 1994. I'm student of International Relations @University of Muhammadiyah Malang
This entry was posted in Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Hey hey! What have you got to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s